Ketinggian yang Diperlukan untuk Melihat
Dibutuhkan suatu kelebihan untuk melihat begitu detailnya kehidupan yang ada di sekitar. Mulai dari membaca intensi seorang manusia, dari tautan wajah dan gerak-geriknya. Untuk memulai itu semua diperlukan otoritas, atau penempatan posisi jiwa yang tinggi, sehingga segala yang ada di bawah dapat terlihat begitu jelas.
Dalam suatu kisah, seorang juru gadai mencoba menjadi "baik". Bukan karena baik adalah sifat alaminya, melainkan sebagai latihan dalam memahami sekitar. Melihat bagaimana raut seseorang yang diberikan lebih dari apa yang ia gadaikan. Dan kemudian menyusun cerita — atau mengatur cerita yang akan terjadi setelahnya.
Kepolosan sebagai Bahan
Seseorang yang begitu polos menjadi bahan yang menarik bagi si Maha Tahu ini. Kepolosan memberikan hasrat untuk melihat, membayangkan, dan menuntun arah dari kepolosan itu sendiri.
Buruknya, Maha Tahu akan jatuh cinta pada kepolosan, karena baginya kepolosan adalah kanvas yang harus dilukiskan.
Dalam suatu perkembangan, kepolosan akan berubah; akan mengerut dan terlihat sedikit menguning. Hal tersebut tidak berpengaruh bagi si Maha Tahu, karena segala yang telah dan akan terjadi sudah diketahui, sehingga bukan masalah untuk terlebih dahulu melihat.
Ketika Akrilik Menjadi Padatan
Bahkan ketika kanvas tertumpah oleh akrilik dan meninggalkan bentukan yang begitu buruk, Maha Tahu tetap memandanginya dan menimbang bagaimana mengubahnya. Tumpahan itu diandaikan sebagai semesta — sesuatu yang tidak akan dihancurkan oleh waktu. Dari hitam dan putih, muncullah spektrum yang membentuk warna-warna di dalamnya.
Namun kanvas telah mengeras dan akrilik sudah menjadi padatan. Tidak ada lagi ruang untuk menggoreskan warna tanpa merusak kanvas tersebut. Kanvas polos itu telah mengering dan membentuk sesuatu yang tak berbentuk, mengeras dan tak dapat digores kembali.
Pada saat itu, Maha Tahu menyadari bahwa kanvas tersebut seharusnya telah membentuk cerita, warna, dan keindahan — bukan kehancuran. Ketika membuang kanvas yang tak berbentuk itu, Maha Tahu tetap memikirkan bagaimana seharusnya kanvas kosong itu dibentuk.
